Duta Damai Indonesia Anti Radikalisme dan Terorisme

, / 3716

Jangan-Jangan Kita Semua Teroris?

SHARE

Media sosial memang tempat paling empuk untuk saling berkomunikasi, saling berkenalan dan memulai hal baik. Namun sayangnya banyak yang tidak memanfaatkan hal ini dengan tepat. Media sosial dijadikan ajang pamer dan mem-bully. Banyak sekali fenomena belakangan ini yang membuat kita sedikit terperangah dengan mem-bully sesorang di media sosial.

Pada tahun 2015 lalu beredar video pem-bully-an siswa salah satu SMP. Seorang yang mem-bully mengaku bahwa ingin mempermalukan temannya tersebut melalu media sosial, namun ternyata malah dirinya yang dicaci, dihina dan menjadi bahan pembicaraan netizen di berbagai platform media sosial.

Pada kasus tersebut, mungkin kita mengklaim bahwa siswa tadi telah melakukan cyberbullying kepada temannya. Ironisnya, ternyata semua pihak tanpa sadar telah melakukan cyberbullying yang mengakibatkan berbagai pihak dirugikan, khususnya pelaku pada video dan korban pada video tersebut. Tanpa disadari, netizen yang mewakili ciri khas masyarakat Indonesia pada umumnya, adalah teroris di dunia maya.

Kita adalah Teroris di Dunia Maya

Hertz dalam bukunya “Electronic Media and Youth Violence: A CDC Issue Brief for Educators and Caregivers” menjelaskan bahwa cyberbullying merupakan bentuk penindasan atau kekerasan dengan bentuk mengejek, mengatakan kebohongan, melontarkan kata-kata kasar, menyebarkan rumor maupun melakukan ancaman atau berkomentar agresif yang dilakukan oleh individu dan perorangan dengan menggunakan bentuk-bentuk pemanfaatan teknologi dan eletronik sebagai media untuk menyerang orang tertentu.

Tanpa kita sadari banyak dari kita telah melakukan cyberbullying di dunia maya. Sebagaimana terorisme, aksi cyberbullying ini menggunakan kekerasan yang menimbulkan ketakutan bagi pihak terkait. Allah SWT berfirman dalam QS Al Hujurat:12,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.

Menyikapi bully yang dilakukan seorang anak kepada temannya, atau bahkan orang dewasa kepada orang lain bukan seharusnya dengan perkataan kasar pula. Karena sesungguhnya menghadapi api bukan dengan api lagi. Seharusnya kita dapat menyikapinya dengan kepala dingin, fikiran jernih dan menjadikan isu tersebut dapat diselesaikan dengan damai.

Sayangnya, banyak dari netizen yang kurang menyadari hal ini. Otot lebih diutamakan daripada hati dan pikiran. Mari kita berdamai dimulai dari diri sendiri. Semoga kedamaian selalu menyertai kita.
Salam Damai!

Posting Jangan-Jangan Kita Semua Teroris? ditampilkan lebih awal di Bunderan Damai.

Artikel ini dipersembahkan oleh : www.bunderan.dutadamai.id