Duta Damai Indonesia Anti Radikalisme dan Terorisme

, / 4166

DUTA DAMAI DAN WAWASAN KEBANGSAAN

SHARE

Meme Kreasi Damai

Perlukah kita memahami nilai-nilai kebangsaan? Atau hanya sekedar tahu tapi enggan memahami sedikitpun? Perlu kita pahami wawasan kebangsaan itu lahir ketika bangsa Indonesia membebaskan diri dari segala bentuk penjajahan. Dalam perkembangan zamannya, bahwa perjuangan Indonesia berlandaskan persatuan dan kesatuan dari seluruh bangsa yang memiliki kekuatan. Kekuatan itu muncul dengan adanya sikap dan tekad yang bersumber dari nilai-niai budaya bangsa. Sepeti yang dikutip pada sumber (demokrasipancasilaindonesia.blogspot.com) bahwa wawasan kebangsaan terdiri dari dua suku kata yaitu “wawasan” dan kebangsaan” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002) dinyatakan bahwa secara etimologis wawasan berarti (1) hasil mewawas, tinjauan, pandangan dan dapat juga diartikan (2) konseps cara pandang. Wawasan kebangsaan identik dengan Wawasan Nusantara yaitu cara pandang bangsa Indonesia dalam mencapai tujuan nasional yang mencakup perwujudan Kepualauan Nusantara sebagai kesatuan politik, sosial budaya, ekonomi, dan pertahanan keamanan (Suhadi dan Sinaga, 2006).

Dari sini kita mengambil sikap dan pengertian, bahwa duta damai bukan sekadar duta yang duduk manis lalu menikmati pemandangan saja melainkan seorang duta damai juga harus memiliki wawasan kebangsaan minimal paham akan arti nilai-nilai pancasila dan memiliki cara pandang yang baik terhadap suatu pencapaian tujuan Indonesia damai. Pencapaian terhadap suatu cara pandang duta damai juga harus dilandasi sikap tidak memilih ataupun memihak.

Nah, kita sudah sangat memahami duta damai berarti duta perdamaian. Orang yang ditunjuk untuk memperkuat perdamaian, menjaga keutuhan bangsa, mengajak dan bersosialisasi dengan masyarakat agar tidak terhasut dan terjerumus dalam paham radikalisme yang kapan saja bisa masuk ke pikiran kita jika kitanya sendiri tidak bertekad untuk membasmi mereka. Untuk itu, perlunya kita sebagai duta damai membentengi diri adalah agar kita juga bisa merangkul dan saling bersinergi. (Dewi Sartika, Kreasi.dutadamai.id)

Artikel ini dipersembahkan oleh : www.kreasi.dutadamai.id