Duta Damai Indonesia Anti Radikalisme dan Terorisme

, / 39

Derita Pencari Status “Syuhada”; Catatan Pembelajaran Dari Aljazair

SHARE

Tentang Status Syuhada dan Kematian yang Sia-Sia
Secara bahasa, Syuhada secara umum diartikan sebagai “kumpulan orang orang yang gugur.” Pemaknaan seperti ini umum ditemukan dalam berbagai literatur non teologi. Sementara dalam pengertian yang lebih spesifik, kata syuhada merupakan bentuk jamak dari kata syahid, sehingga ia berarti “orang yang gugur ketika berjuang di jalan Allah, atau demi tegaknya agama Allah. Dari sini jelas bahwa Syuhada bukanlah nama pangkat, bukan pula jabatan.
Upaya untuk menegakkan agama Allah tidak hanya bisa dilakukan dengan melakukan pertempuran fisik, karena seperti dijelaskan oleh Imam Hasan al-Bashri dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, bekerja mencari nafkah untuk keluarga pun termasuk dalam upaya membela agama Allah (jihad). “Sesungguhnya bisa jadi ada seorang senantiasa berjihad walaupun tidak pernah menyabetkan pedang -di medan perang- suatu hari pun.” (lihat, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [6/264] cet. Dar Thaibah). Apa yang menjadi ganjaran untuk seorang syuhada, itu bukan urusan manusia. Diterima atau tidaknya amalan manusia, sepenuhnya hanya Allah Swt sang khaliq saja yang tahu.
Lantas, dengan semakin merebaknya pemahaman sempit yang menyatakan bahwa gelar Syuhada hanya bisa dicapai dengan kematian di medan perang, muncullah sebuah pertanyaan penting; Apakah status kematian syahid bisa dijadikan tujuan?
Penulis kira bisa. Tujuan syahid tidak sama dengan tujuan kematian. Status syuhada adalah pengharapan. Misalnya seorang tentara yang berangkat ke medan perang, maka dia tidak boleh menempatkan dirinya agar sengaja untuk ditembak agar mendapat status syuhada.  Seorang tentara dengan taktis dan teknis yang dikuasainya di medan perang seharusnya bisa membunuh musuhnya sebanyak mungkin untuk memenangkan perang demi negaranya. Kalau ia berdiri di depan tank tempur musuh

Baca Artikelnya di web ini : https://damailahindonesiaku.com