Duta Damai Indonesia Anti Radikalisme dan Terorisme

Pluralisme, kemajemukan, keanekaragaman apapun istilahnya sudah menjadi ciri bangsa Indonesia. Maka penerimaan atas kebhinekaan ini menjadi hal yang wajib bagi bangsa Indonesia yang sudah meletakkan Pancasila sebagai Dasar Negara.

toleransi dan keteladanan rasulullah

Beberapa saat ini usaha-usaha untuk “menggeser” Pancasila dan mementahkan kembali apa yang sudah dibangun selama ini oleh para pendahulu dan pendiri bangsa datang bergelombang dan bertubi-tubi.

Pemahaman atas kehidupan bersama, berdampingan sesama manusia yang beragam suku, agama dan budaya inilah yang menjadi biang keladinya.

Kaitannya dengan keberagaman dan toleransi ini, kita bisa belajar banyak dari keteladanan Rasulullah SAW yang memberikan contoh tentang Pluralisme bersyaratkan komitmen yang kuat terhadap ajaran agama.

Au bin Burhanuddin al-Halaby al-Syafi’i seorang Sejarawan Muslim pernah menuliskan bahwa Rasulullah sungguh mengerti akan kehidupan toleransi. Beliau lahir bathin dengan lapang dada pernah mengizinkan utusan Kristen Najran datang ke Madinah dan berdoa di kediaman Rasulullah.

Sebaliknya, Sewaktu Rasulullah berlindung di Ethiopia dan para oknum Jahiliyah yang meng-klaim sebagai Masyarakat Arab meminta untuk mengekstradisi Beliau ke Makkah, Raja Negus yang notabene beragama Kristen justru menolak dan melindungi Rasulullah dan para pengikutnya.Itulah bentuk persaudaraan yang sudah di contohkan oleh Rasullulah.

Banyak sekali para rohaniwan (lintas Agama), Sarjana Barat yang menuliskan biografi Rasullulah dengan obyektif dan mereka menuliskan tentang kehidupan toleransi dan puralisme yang sudah diteladankan oleh Rasulullah SAW. Dalam berbagai kesempatan, pernyataan-pernyataan Rasulullah merupakan sebuah ajaran yang meletakkan prinsip-prinsip mulia dalam kehidupan dan kemanusiaan.

Bagi kita sebagai bangsa Indonesia yang memegang teguh ajaran Agama dan dasar negara sebagai pegangan panduan hidup berbangsa, ada hal-hal yang perlu menjadi perhatian dan fokus kita dalam meneladan Kehidupan Nabi agar berdampak dalam kehidupan beragama kita yaitu selalu baik dalam perbuatan maupun tutur kata.

Dalam proses pendewasaannya, masyarakat Indonesia harus terus menuju kepada semangat persaudaraan yang tinggi dan kuat. Semua umat beragama di Indonesia seharusnya tidak usah terpengaruh dengan histori konflik yang berlatar belakang pada masalah intoleran antar umat beragama yang justru berpengaruh buruk dan pasti akan memunculkan kecurigaan, kesalahpahaman dan berujung pada permusuhan.

Banyak orang yang sampai sekarang belum menyadari dan hanya terjebak dengan sudut-sudut sempit pemahaman. Bangsa Indonesia memiliki kepribadian, potensi dan kekayaan yang tidak ternilai. Jika kita sejenak menengok dari dunia luar, Anda akan tahu, paham dan menyadari betapa besarnya nikmat dan karunia Tuhan selama ini yang sudah dan akan terus dilimpahkan kepada bangsa Indonesia.

Nikmat inilah yang seharusnya digenggam oleh setiap orang untuk selalu mampu menjaga dan mensyukuri hidup, agar kita sebagai manusia biasa dapat meningkatkan keimanan dan kualitas hidup yang meneladan Rasulullah SAW.

sumber : Alwi Shihab’s Journal, https://www.selasar.com

The post Belajar Toleransi Melalui Keteladanan Rasulullah SAW appeared first on Pojok Damai.

Artikel ini dipersembahkan oleh : www.pojok.dutadamai.id